life journey, thought, animals and big smile :)

Sekaten ceremony of Yogyakarta

This Year Sekaten ceremony in the city of Yogyakarta is held on 7th January until 16th February 2011. We can see the big event at the main square in front of the kraton called “Alun Alun Utara”, also within the kraton and the big mosque.

Sekaten was the introductory ceremony from the commemoration of the birth of Great Prophet Muhammad. According to the Javanese calendar (lunar calendar), Great Prophet Muhammad S.A.W was born on the 12th of Maulud.

The royal troop at Grebeg Maulud

Sekaten berasal dari kata “syahadatain” atau dua kalimat syahadat yang menjadi strategi para wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Ini merupakan akar tradisi masyarakat jogja yang sudah berlangsung cukup lama.

Tema besar dalam perayaan Sekaten 2011 yaitu “Harmoni budaya, ekonomi dan religi“.

Peristiwa budaya yang dapat disaksikan secara langsung dalam perayaan Sekaten akan dimulai dengan prosesi “miyos gangsa” yaitu keluarnya gamelan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga pada tanggal 5 bulan Maulud atau 9-15 Februari.

Gamelan tersebut akan diarak dari Bangsal Pancaniti ke Masjid Gedhe untuk kemudian ditabuh selama tujuh hari

Back then in the beginning of the development of the Islam religion in Java, one of the Moslem pioneer, Sunan Kalijogo, utilized Gamelan as a mean of attracting the wider community to come to enjoy the music performance. In between the performances, there are sermon and holy Qur’an reading. For those who determined to join the Islam religion was obliged to say the statement Confession of Faith and become Moslem

Selama 40 hari ini digelar juga pasar rakyat atau pasar malam sekaten dimana semua warga jogja dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi ini. Makanan special saat perayaan sekaten adalah ‘ Sego gurih’ dan ‘endhog abang’ yaitu telur yang diwarnai dan ditusuk kemudian diberi hiasan. Berbagai makanan yang dijual di pasar malam antara lain ‘sate kere’ (sate dari lemak sapi), harum manis, kue-kue goreng, es bakar, dll.

 

Selain Pasar malam, selama perayaan sekaten, Kraton Yogyakarta juga terbuka untuk umum, dengan membayar tiket masuk 3 ribu rupiah.

Di dalam halaman kraton dipamerkan berbagai kereta kuda yang dulu digunakan oleh keluarga kerajaan, kerajinan khas jogja seperti tenun gendhong, kerajinan tanduk, pembuatan alat masak dari tembaga, pembuatan gamelan, kerajinan membuat keris. Pameran sejarah kota Yogyakarta dari jaman raja-raja hingga jaman kemerdekaan, disini dapat dilihat lukisan raja raja Yogyakarta, silsihah raja-raja, Foto-foto penggalian situs peninggalan yang ada di daerah Yogyakarta, foto-foto peristiwa bersejarah yang terjadi di Yogyakarta.

bangsal Siti hinggil (: tanah tinggi), biasa digunakan untuk acara2 istimewa

Melihat ini serasa diingatkan betapa istimewanya Yogyakarta ini

Grebeg Muludan

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 Maulud mulai jam 8:00 pagi. Dengan dikawal oleh 10 macam (bregodo/kompi) prajurit Kraton: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis. Pasukan prajurit ini mempunyai ciri khas masing masing dari bendera, pakaian yang dikenakan instrument musik yang dimainkan dan senjata yang mereka bawa. Nama-nama bregodo ini juga digunakan sebagai nama daerah di sekeliling kraton Yogyakarta (seperti: wirobrajan, patangpuluhan, mantrijeron, dst).

Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Siti Hinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka.

Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Rangkaian kegiatan budaya sekaligus akhir dari Sekaten kemudian ditandai dengan acara Bedhol Songsong atau pentas wayang kulit semalam suntuk di Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Yogyakarta, city of traditions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s